Membaca Pesan Penguasa di Konferprov PWI

67

Bandara Lampung,-Lima nama sudah beredar dalam bursa pemilihan ketua PWI Lampung. Ada yang getol roadshow dan rajin berkampanye udara. Ada yang melakukan operasi senyap, lobi-lobi di ruang gelap. Ada pula yang diam, menunggu momentum yang tepat.

Menariknya, Ketua PWI Lampung Supriyadi Alfian sudah memberikan pernyataan sekaligus kode: bahwa tiga calon ketua PWI adalah kader terbaik. Wirahadikusumah, Juniardi dan Nizwar Ghazali. Dua calon lainnya tak disebut.

Pernyataan ini menarik dibubuhi makna jelang perhelatan Konferprov PWI Lampung akhir Desember nanti. Penulis mencoba menafsirkan pernyataan ini dari kacamata politik kepentingan kekuasaan.

Ada sinyal kuat bahwa ini merupakan semacam restu dan tiket masuk dari penguasa untuk ketiga calon ini. “Siapa pun yang jadi, harus dari tiga nama ini. Jangan sampai yang lain,” begitu kira-kira pesan sang penguasa.

Mengapa harus tiga nama ini?
Ketiganya relatif bisa diajak bekerjasama dan bersinergi dengan kekuasaan. Itulah arti makna calon terbaik. Indikator lainnya bisa dilihat dari karya jurnalistik yang ketiganya pernah buat. Termasuk cara menjalin hubungan dengan penguasa: kooperatif, moderat dan fleksibel.

Sementara di luar ketiga calon ini, merupakan sosok yang dianggap beraliran garis keras, liar dan kerap beroposisi dengan penguasa. Tentu jenis aliran ini kurang kompatibel dengan selera dan karakter penguasa yang alergi kritik. Tidak bisa baca berita pedas. Gampang tersengat dan mencak-mencak.

Sebenarnya, dari ketiga nama yang sudah memiliki ‘tiket restu’ itu, kita masih memiliki dua calon. Yang juga punya harapan untuk menjadi ketua PWI Lampung yang lebih independen. Lebih membela kepentingan rakyat tertindas dan wartawan, dari pada sibuk mengikuti selera penguasa.

Siapakah sosok itu?
Ada Herman Batin Mangku dan Adolf Ayatullah Indrajaya. Jika Adolf memilih nothing to lose dalam pencalonannya, Herman lebih bersemangat. Keduanya punya spirit idealisme yang lebih kental.

Apalagi Herman, dia seperti kader AJI yang menyusup ke PWI. Kiprahnya di Lampost, Tempo, RMOL dan kini di Poskota, cukup membuktikan bahwa dia wartawan senior berkelas. Tulisannya selalu bikin merinding penguasa dan inner circle nya. Tapi keduanya rupanya tak lolos litsus penguasa. Terbukti hanya tiga yang disebut Ketua PWI Lampung Supriyadi Alfian sebagai calon terbaik.

Lalu akankah, dua calon di luar tiga nama itu bisa memenangkan Konferprov?
Berat. Apalagi seiring dengan menguatnya isu politik uang. Ini menunjukkan masih adanya anggota PWI yang terjebak dengan budaya lama. Mereka tak sadar situasi pers saat ini sudah berubah.
Meski berat, harapan itu tetap ada: keajaiban.

Terakhir, Penulis berharap, meski perkiraan yang bakal menjadi ketua PWI ke depan adalah tiga calon terbaik itu. Ketua PWI Lampung mendatang tidak lagi terkooptasi dengan penguasa. Tergiur nyaleg dan jadi tim sukses. Sibuk dengan agenda-agenda politik praktis, jadi makelar proyek, ketimbang berkhidmat dengan urusan pers. Lalu, urusan jurnalistik akhirnya cuma sekedar sambilan di sela agenda politik besarnya.

Nurcholis Sajadi
Redaktur Pelaksana Monologis
Dimuat di monologis.id edisi 21 Oktober 2021