Petani Singkong Minta Pemerintah Setabilkan Harga.

41

Lampung Utara- Masalah yang berkaitan dengan para petani tidak lagi asing di dengar, terutama masalah harga yang tidak sesuai, salah satunya harga singkong  dan harga hasil perkebunan karet, Senin (07/12/2020)

Harga dan potongan yang hasil perkebunan singkong masih saja menjadi keluhan para petani. Harga singkong dan potongan persen yang telah ditentukan saat mediasi antara Pemkab dengan perwakilan petani di Lampung Utara sebesar Rp850 dengan potongan 10% sampai 15% masih saja menjadi keluhan para petani. Menurut para petani harga dan potongan tersebut masih saja tidak sesuai dengan modal yang mereka keluarkan saat penanaman maupun perawatan kebun mereka, seperti pemberian pupuk, belum lagi biaya yang dikeluarkan untuk mengupah para pencabut rumput atau para tenaga kerja saat panen tiba. Ditambah lagi biaya yang dikeluarkan untuk ongkos mobil pembawa hasil singkong yang akan dijual di lapak penerima singkong tersebut.

Dari potongan persen yang ditentukan dan biaya upah ataupun ongkos mobil penarik hasil singkong tersebut keuntungan bersih yang diterima oleh petani hanya berkisaran Rp400, dan dengan keuntungan sebesar itu menjafi pertanyaan bagi para petani maupun khalyak ramai, apakah cukup dengan keuntungan yang didapat tersebut dengan biaya kehidupan yang semakin naik?

Erlan salah satu petani singkong menjawab, bahwa dengan keuntungan tersebut tidaklah cukup. Ditambah lagi dengan akibat pandemi Covid-19 yang sangat berpengaruh dan harga sembako maupun kebutuhan hidup yang semakin naik, membuatnya bingung dan menjalani pekerjaan sampingan lainnya. “Harga yang kami terima kalau dihitung-hitung Rp400 untung-untung bisa Rp500, ya gimana semuanya dipotong ini itu, kalau untuk segitu ya bisa dibilang gak cukup karena kita mau nanam lagi, belum lagi pandemi begini, anak sekolah pun kebutuhannya bertambah beli kuota internet, ditambah lagi akhir tahun gini harga semua naik, kita bingung, yang kita  pingin sih harga bisa Rp1.000 untuk potongan yang engagak apa-apa tapi harganya tolong dipertimbangkan karena kami petani juga menjadi unsur utama dalam kehidupan kita,”ucap Erlan.

Tidak hanya harga singkong, harga hasil perkebunan karet juga menjadi keluahan bagi petani karet. Harga yang sempat naik sampai lebih dari Rp9.000 kini kembali turun menjadi Rp7.000-Rp8.000. Yang menjadi keluhan para petani karet adalah dengan harga tersebut di musim penghujan ini tidaklah sesuai. Telah diketahui di musim penghujan maka petani karet tidak akan mendapatkan hasil panennya. Dan untuk menjualnya harus dikumpulkan terlebih dahulu lebih kurang satu sampai dengan dua minggu. “Kalau panen kan enggak langsung di jual, nunggu satu atau dua minggu dulu dengan harga segitu terus musim hujan gini paling besar Rp100.000 sampai Rp200.000 itu untuk setengah bulan, ya dicukup-cukupi aja padahal enggak cukup, kalau untuk kebutuhan mendadak kalau enggak ada uang yang terpaksa berhutang,”kata Ardi.

Diharapkan kembali kepada Pemerintah Daerah dapat mempertimbangjkan kembali harga hasil pertanian demi kesejahteraan petani yang menjadi unsur utama dalam kehidupan khalayak ramai.(shanti)